Kaizen Goes to School: Bentuk Kepedulian Toyota pada Dunia Pendidikan

Kesadaran akan pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia, khususnya dalam industri otomotif, membuat Toyota Astra Motor (TAM) menyelenggarakan Kaizen Goes to School (KGTS) sebagai wujud partisipasi aktif perusahaan mereka dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di dunia pendidikan.

Lahir dari nilai dasar budaya perusahaan Toyota Way: Respect for People and Continuous Improvement, alias Kaizen, budaya ini ternyata sudah tertanam lama pada diri Toyota Astra Motor (TAM).

Dengan semangat bersama yang bertujuan membangun Indonesia, TAM melakukan knowledge sharing dengan meningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekitarnya melalui pelatihan perbaikan berkelanjutan yaitu practical problem solving, termasuk ke sekolah-sekolah di sekitar perusahaan.

Terhitung 44 SMK ikut berpartisipasi dalam program KAIZEN GOES TO SCHOOL 2018. Sejalan dengan semangat Toyota “Let’s Go Beyond” dan “Toyota Berbagi”, TAM juga berpartisipasi aktif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik di lingkungan internal perusahaan maupun lingkungan masyarakat di sekitarnya. Peningkatan kualitas sumber daya internal yang dilakukan oleh Toyota, melalui Quality Control Circle (QCC).

Lewat aktivitas QCC di internal TAM ini, terbukti mampu menjadi salah satu metode yang efektif dalam mengembangkan sumber daya manusia, dalam mempertahankan excellent operation di tengah tuntutan pelanggan yang semakin tinggi dan beragam, dinamika kompetisi yang semakin ketat, dan teknologi yang terus berkembang.

Pelaksanaan QCC ini yang diyakini mampu menjadi wahana dalam menciptakan pribadi yang berjiwa inovatif, sehingga mampu bersaing di era persaingan regional maupun global.

Adanya Laboratorium Kaizen di SMK Al Muslim Tambun, Bekasi, sejak tahun 2014 Toyota melaksanakan kegiatan pelatihan nilai-nilai Kaizen ke dunia pendidikan selama beberapa tahun belakangan. Pada tahun ini, TAM bersama-sama dengan Duta KGTS menyusun perangkat pembelajaran dan juga melakukan pelatihan dan pendampingan khusus kepada para guru dari 44 SMK di wilayah Bekasi dan Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan ini juga memberikan soft skill training kepada para guru, diharapkan nantinya para guru tersebut akan mengajarkan nilai-nilai Kaizen kepada para siswa-siswanya. Para guru dan siswa dirangsang agar menjadi lebih sadar terhadap problematika yang berada di sekitarnya.

Sebagai contoh, masalah keterlambatan mengumpulkan PR, mengurangi jumlah siswa yang remedial, berhemat air, kertas, dan listrik, mengurangi limbah plastik, dan program lingkungan lainnya yang secara riil dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh mereka.

Sebagai keberlanjutan program ini, TAM juga melakukan Konvensi KGTS dengan melibatkan ke-44 SMK tersebut. Ke-44 SMK melakukan pemaparan atas program KGTS, di mana materi yang dipresentasikan adalah kegiatan problem solving yang dilakukan di sekitar sekolah. Nantinya akan dipilih satu pemenang yang memiliki program yang dinilai paling efektif dan secara pelaksanan paling baik.

Tantangan tidak hanya dihadapi oleh internal TAM, karena lingkungan eksternal seperti dunia pendidikan juga dihadapkan pada berbagai problematika dan tantangan seperti tingginya tingkat pengangguran, kompetisi yang semakin ketat, serta kesenjangan antara kualifikasi lulusan sekolah dengan spesifikasi yang dibutuhkan di lapangan.

Dalam hal ini, Toyota telah memiliki cara tersendiri dalam berkontribusi untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, dengan membangun kemampuan dan kemandirian menyelesaikan masalah, karena format yang tepat untuk membangun generasi muda ini menjadi kunci penting dalam melakukan perbaikan.

Sekolah dinilai menjadi salah satu institusi yang memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai dan pembentukan karakter/kepribadian, sekaligus sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Sehingga, KGTS diharapkan menjadi solusi dan memberikan kontribusi strategis bagi dunia pendidikan untuk mewujudkan generasi yang lebih baik.